Istiqamah: Puisi Sunyi di Jalan yang Lurus

Di tengah badai yang menggelegar, manusia kerap diuji oleh guncangan keadaan (suara dunia yang riuh, tuntutan kompromi yang mengaburkan prinsip, serta arus zaman yang sering menyeret ke arah mudah namun keliru). Pada saat seperti itulah, jalan yang lurus hadir bukan sebagai teriakan, melainkan sebagai cahaya yang tak pernah padam di dalam hati yang teguh. Ia menuntun tanpa gaduh, menerangi tanpa menyilaukan.

Ketika dunia berteriak meminta kompromi (mengajak menukar nilai dengan kenyamanan) istiqamah justru hadir sebagai bisikan lembut: “Aku tetap di sini, pada jalan yang benar.” Istiqamah bukan sikap keras yang kaku, melainkan keteguhan yang penuh kesadaran. Ia memelihara arah, menjaga niat, dan merawat amal agar tetap berada pada rel kebenaran, meski langkah terasa berat dan sunyi.

Dalam Islam, istiqamah adalah puncak kejujuran iman. Ia mengikat keyakinan dengan amal, menyatukan doa dengan usaha. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk teguh di jalan yang lurus, bukan sekadar mengetahui kebenaran, tetapi menetap di atasnya, hari demi hari, pilihan demi pilihan. Keteguhan inilah yang membedakan semangat sesaat dari komitmen seumur hidup.

Setiap langkah kecil yang dijalani dengan kebenaran sesungguhnya adalah puisi yang ditulis dalam diam. Ia mungkin tak dirayakan, tak viral, dan tak selalu dipuji. Namun, bait-bait sunyi itu perlahan membentuk kisah yang kokoh, kisah tentang hati yang tidak goyah oleh badai, tentang jiwa yang tidak terseret oleh arus. Dari kejujuran yang dijaga, amanah yang ditunaikan, hingga kesabaran yang dipeluk saat lelah, semuanya merangkai narasi keteguhan yang indah.

Rasulullah ï·º mengajarkan bahwa istiqamah bukan sekadar konsep, melainkan jalan hidup yang sederhana namun dalam: beriman kepada Allah, lalu beristiqamahlah

Hadis Nabi ï·º: “Katakanlah: ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqamahlah.” (HR. Muslim).

Kesederhanaan pesan ini menyimpan kedalaman makna, bahwa setelah iman diikrarkan, tugas kita adalah menjaganya tetap hidup dalam keputusan sehari-hari. Dan di situlah keindahan istiqamah: ia tidak menuntut gemuruh, cukup konsistensi.

Akhirnya, istiqamah adalah kemenangan yang tenang. Ia mungkin tidak selalu tampak di permukaan, tetapi ia membentuk fondasi yang tak tergoyahkan. Dalam badai yang menggelegar, biarlah langkah kita tetap lurus. Sebab, setiap puisi sunyi yang ditulis dengan kebenaran, pada waktunya akan menjadi kisah yang bersinar (di dunia dan di akhirat).


Post a Comment

Previous Post Next Post