Mudahnya Meninggalkan Jalan Dakwah

Jalan dakwah bukan jalan yang gelap, ia terang. Namun justru karena terangnya, ia menyingkap kelelahan, pengorbanan, dan ujian yang sering tidak disukai jiwa.

Banyak orang memulai dakwah dengan semangat membara. Hati dipenuhi cita-cita memperbaiki umat, meluruskan niat, dan menegakkan kebenaran. Namun seiring waktu, sebagian perlahan mundur, bukan karena dakwah itu salah, melainkan karena jalan ini memang tidak ringan.

Dakwah: Jalan Mulia yang Tidak Murah. Allah ﷻ dengan tegas menunjukkan kemuliaan dakwah dalam firman-Nya:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Artinya: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Fuṣṣilat: 33)

Ayat ini bukan sekadar pujian, tetapi penetapan derajat. Tidak ada perkataan yang lebih mulia daripada dakwah. Namun, kemuliaan ini tidak diberikan secara cuma-cuma, ia dibayar dengan kesabaran, pengorbanan, dan konsistensi.

Imam Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kedudukan tertinggi bagi orang yang menggabungkan dakwah, amal saleh, dan keikhlasan. (Ibn Katsir, Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Aẓīm, Tafsir QS. Fuṣṣilat: 33)

Mengapa Banyak yang Pergi?. Meninggalkan dakwah sering kali tidak terjadi dalam satu malam. Ia dimulai dari:
  • lelah yang tidak diobati dengan ikhlas,
  • luka yang tidak disembuhkan dengan sabar,
  • atau niat yang perlahan tergeser oleh dunia.

Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:

“Banyak orang mengetahui keutamaan kebenaran, tetapi sedikit yang sanggup bersabar di jalannya.” (Al-Ghazali, Ihyā’ ‘Ulūmiddīn, Kitab Sabar dan Syukur)

Jalan dakwah menuntut lebih dari sekadar pengetahuan; ia menuntut keteguhan hati. Tanpa itu, seseorang mudah tergelincir oleh kenyamanan dunia, pujian manusia, atau kekecewaan terhadap sesama pejuang.

Dakwah Adalah Warisan Para Nabi. Rasulullah ﷺ dan para nabi sebelumnya menempuh dakwah dengan harga yang sangat mahal: ditolak, dicaci, diasingkan, bahkan disakiti.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا۟ عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا۟ وَأُوذُوا۟ حَتَّىٰٓ أَتَىٰهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِ ٱللَّهِ ۚ وَلَقَدْ جَآءَكَ مِن نَّبَإِى۟ ٱلْمُرْسَلِينَ

Artinya: Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu. (QS. Al-An‘ām: 34)

Ayat ini menegaskan bahwa gangguan adalah sunnatullah dalam dakwah, bukan tanda kegagalan.

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

“Siapa yang mengira jalan dakwah itu mudah, berarti ia belum memahami jalan para nabi.” (Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Zād Al-Ma‘ād, Juz 3.)

Kesempatan Dakwah Tidak Selalu Datang Dua Kali. Salah satu penyesalan terbesar di akhir hayat adalah menyia-nyiakan kesempatan beramal saat mampu. Dakwah adalah amanah, dan amanah tidak selalu ditawarkan kembali.

Hasan Al-Bashri رحمه الله mengingatkan:

“Kesempatan itu seperti awan: jika engkau tidak mengambilnya, ia akan berlalu.” (Adz-Dzahabi, Siyar A‘lām An-Nubalā’, biografi Hasan Al-Bashri)

Selama Allah masih memberi kita ruang berdakwah, meski kecil, meski sunyi, itu adalah tanda kepercayaan. Tidak semua orang diberi kesempatan berada di barisan ini.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

Artinya: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa pemahaman agama yang diikuti dengan dakwah adalah bentuk kebaikan tertinggi yang Allah kehendaki bagi seorang hamba.

Bertahan di Dakwah: Lebih Sulit, Lebih Mulia. Bertahan di jalan dakwah ketika lelah, ketika tidak dihargai, ketika diuji oleh manusia, itulah kemuliaan yang sesungguhnya.

Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله berkata:

“Antara kebenaran dan kebatilan hanya dipisahkan oleh kesabaran.” (Diriwayatkan dalam Manāqib Al-Imām Aḥmad karya Ibnul Jauzi)

Dakwah tidak membutuhkan manusia yang sempurna, tetapi manusia yang mau bertahan. Yang terus melangkah meski terseok. Yang memilih setia meski terluka.

Jangan Pergi Terlalu Cepat, Jika hari ini dakwah terasa berat, ingatlah:
  • para nabi menanggung yang jauh lebih berat,
  • ulama menapaki jalan ini dengan air mata,
  • dan keberkahan sering tersembunyi di balik kesabaran panjang.

Jangan tinggalkan dakwah hanya karena lelah.
Beristirahatlah jika perlu, tetapi jangan melepaskan amanah.

Karena bisa jadi, kesempatan yang sedang Anda pegang hari ini tidak akan datang kembali. Dan siapa yang tahu, mungkin melalui tangan Andalah Allah menyalakan hidayah bagi banyak jiwa.

__________

Post a Comment

Previous Post Next Post