Saat Ilmu Dikalahkan oleh Dengki

Allah ﷻ berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 212:

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۘ وَٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ فَوْقَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir kehidupan dunia, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih tinggi kedudukannya di hari Kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa batas.”

Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa standar kemuliaan bukanlah dunia, bukan harta, jabatan, atau popularitas. Dunia bisa tampak indah bagi sebagian orang, bahkan mereka bisa merendahkan orang-orang beriman. Namun Allah menegaskan bahwa yang mulia di sisi-Nya adalah orang yang bertakwa.

Dan di akhir ayat, Allah mengingatkan bahwa rezeki dunia tetap diberikan kepada siapa saja yang Allah kehendaki, baik orang beriman maupun tidak. Artinya, dunia bukan ukuran kemuliaan, melainkan hanya ujian.

Jika kemuliaan itu ditentukan oleh ketakwaan, maka muncul pertanyaan: bagaimana mencapai ketakwaan?

Jawabannya adalah dengan ilmu, khususnya ilmu dari Al-Qur’an dan Sunnah. Karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.

Ilmu adalah cahaya yang menunjukkan jalan menuju ketakwaan. Tanpa ilmu, seseorang tidak akan tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang diridhai Allah dan mana yang dimurkai-Nya.

Namun, ada satu perkara yang sangat berbahaya bagi orang yang berilmu, yaitu hati yang tidak bersih, khususnya penyakit kedengkian (hasad).

Allah ﷻ menjelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 213 bahwa:

وَمَا ٱخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ

Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri.”

Manusia awalnya satu umat, kemudian mereka berselisih. Dan yang berselisih itu justru orang-orang yang telah diberi kitab dan penjelasan yang jelas, karena kedengkian di antara mereka.

Ini adalah peringatan keras. Orang yang memiliki ilmu pun bisa tersesat, bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena penyakit hati. Ilmu tidak otomatis menyelamatkan seseorang jika hatinya rusak.

Lebih tegas lagi Allah ﷻ berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 109:

وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّنۢ بَعْدِ إِيمَٰنِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلْحَقُّ ۖ

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.”

Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu menjadi kafir setelah kamu beriman, karena kedengkian dari dalam diri mereka, setelah jelas bagi mereka kebenaran.

Perhatikan, yang memiliki ilmu (Ahli Kitab) justru ingin menyesatkan orang lain. Mengapa? Karena hasad.

Hasad membuat seseorang:

  • Tidak suka melihat kebaikan pada orang lain
  • Menolak kebenaran meskipun dia mengetahuinya
  • Bahkan ingin orang lain jatuh dan tersesat

Inilah bukti bahwa ilmu tanpa hati yang bersih bisa menjadi bumerang.

Maka, setelah seseorang menuntut ilmu, yang paling penting adalah menjaga hati.

Karena hati adalah pusat:

  • Niat
  • Keikhlasan
  • Kebenaran amal

Jika hati rusak, maka ilmu yang tinggi pun tidak akan memberi manfaat.

Allah ﷻ memberikan solusi dalam QS Ar-Ra’d ayat 28:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram

Dzikrullah adalah kunci menjaga hati. Bukan hanya ucapan di lisan, tetapi menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas kehidupan.

Makna dzikrullah dalam kehidupan:

  • Shalat dilakukan dengan menghadirkan Allah
  • Puasa dilakukan karena Allah
  • Sedekah dilakukan karena Allah
  • Mengajar, belajar, bekerja—semuanya untuk Allah

Ketika hati selalu terhubung dengan Allah, maka:

  • Hasad akan melemah
  • Ikhlas akan tumbuh
  • Ilmu akan menjadi cahaya, bukan fitnah

Saudaraku, dunia ini bukan ukuran kemuliaan. Ketakwaanlah standar yang sesungguhnya. Untuk meraih ketakwaan, kita membutuhkan ilmu. Namun setelah ilmu, ada ujian yang lebih berat: menjaga hati.

Jangan sampai kita menjadi seperti orang-orang yang disebut dalam Al-Qur’an: memiliki ilmu, tetapi menyimpang karena kedengkian.

Mari kita senantiasa membersihkan hati dengan dzikrullah, agar ilmu yang kita miliki benar-benar mengantarkan kita kepada kemuliaan di sisi Allah ﷻ.

Semoga Allah menjaga hati kita, membersihkan niat kita, dan menjadikan ilmu kita bermanfaat. Aamiin.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post