زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا۟
ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۘ وَٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟
فَوْقَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Dijadikan
indah dalam pandangan orang-orang kafir kehidupan dunia, dan mereka memandang
hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih
tinggi kedudukannya di hari Kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang
Dia kehendaki tanpa batas.”
Ayat
ini memberikan pelajaran penting bahwa standar kemuliaan bukanlah dunia,
bukan harta, jabatan, atau popularitas. Dunia bisa tampak indah bagi sebagian
orang, bahkan mereka bisa merendahkan orang-orang beriman. Namun Allah
menegaskan bahwa yang mulia di sisi-Nya adalah orang yang bertakwa.
Dan
di akhir ayat, Allah mengingatkan bahwa rezeki dunia tetap diberikan kepada
siapa saja yang Allah kehendaki, baik orang beriman maupun tidak. Artinya, dunia
bukan ukuran kemuliaan, melainkan hanya ujian.
Jika
kemuliaan itu ditentukan oleh ketakwaan, maka muncul pertanyaan: bagaimana
mencapai ketakwaan?
Jawabannya
adalah dengan ilmu, khususnya ilmu dari Al-Qur’an dan Sunnah. Karena
itulah Rasulullah ﷺ bersabda bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap
muslim.
Ilmu
adalah cahaya yang menunjukkan jalan menuju ketakwaan. Tanpa ilmu, seseorang
tidak akan tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang diridhai Allah
dan mana yang dimurkai-Nya.
Namun,
ada satu perkara yang sangat berbahaya bagi orang yang berilmu, yaitu hati
yang tidak bersih, khususnya penyakit kedengkian (hasad).
Allah
ﷻ menjelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 213 bahwa:
وَمَا
ٱخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا ٱلَّذِينَ أُوتُوهُ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ ٱلْبَيِّنَٰتُ
بَغْيًۢا بَيْنَهُمْ
“Tidaklah
berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada
mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang
nyata, karena dengki antara mereka sendiri.”
Manusia
awalnya satu umat, kemudian mereka berselisih. Dan yang berselisih itu justru
orang-orang yang telah diberi kitab dan penjelasan yang jelas, karena
kedengkian di antara mereka.
Ini
adalah peringatan keras. Orang yang memiliki ilmu pun bisa tersesat,
bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena penyakit hati. Ilmu
tidak otomatis menyelamatkan seseorang jika hatinya rusak.
Lebih
tegas lagi Allah ﷻ berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 109:
وَدَّ
كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّنۢ بَعْدِ إِيمَٰنِكُمْ
كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلْحَقُّ
ۖ
“Sebahagian
besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada
kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka
sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.”
Banyak
di antara Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu menjadi
kafir setelah kamu beriman, karena kedengkian dari dalam diri mereka,
setelah jelas bagi mereka kebenaran.
Perhatikan,
yang memiliki ilmu (Ahli Kitab) justru ingin menyesatkan orang lain.
Mengapa? Karena hasad.
Hasad
membuat seseorang:
- Tidak suka melihat kebaikan
pada orang lain
- Menolak kebenaran meskipun dia
mengetahuinya
- Bahkan ingin orang lain jatuh
dan tersesat
Inilah
bukti bahwa ilmu tanpa hati yang bersih bisa menjadi bumerang.
Maka,
setelah seseorang menuntut ilmu, yang paling penting adalah menjaga hati.
Karena
hati adalah pusat:
- Niat
- Keikhlasan
- Kebenaran amal
Jika
hati rusak, maka ilmu yang tinggi pun tidak akan memberi manfaat.
Allah
ﷻ memberikan solusi dalam QS Ar-Ra’d ayat 28:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ
ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“(yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”
Dzikrullah adalah kunci menjaga hati. Bukan hanya ucapan di lisan,
tetapi menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas kehidupan.
Makna
dzikrullah dalam kehidupan:
- Shalat dilakukan dengan
menghadirkan Allah
- Puasa dilakukan karena Allah
- Sedekah dilakukan karena Allah
- Mengajar, belajar,
bekerja—semuanya untuk Allah
Ketika
hati selalu terhubung dengan Allah, maka:
- Hasad akan melemah
- Ikhlas akan tumbuh
- Ilmu akan menjadi cahaya, bukan
fitnah
Saudaraku,
dunia ini bukan ukuran kemuliaan. Ketakwaanlah standar yang sesungguhnya.
Untuk meraih ketakwaan, kita membutuhkan ilmu. Namun setelah ilmu, ada ujian
yang lebih berat: menjaga hati.
Jangan
sampai kita menjadi seperti orang-orang yang disebut dalam Al-Qur’an: memiliki
ilmu, tetapi menyimpang karena kedengkian.
Mari
kita senantiasa membersihkan hati dengan dzikrullah, agar ilmu yang kita miliki
benar-benar mengantarkan kita kepada kemuliaan di sisi Allah ﷻ.
Semoga
Allah menjaga hati kita, membersihkan niat kita, dan menjadikan ilmu kita
bermanfaat. Aamiin.