Kedewasaan dalam Mengambil Ilmu dan Hikmah

"Lihatlah apa yang disampaikan, bukan semata-mata siapa yang menyampaikan."


Salah satu tanda kedewasaan berpikir dan kematangan iman adalah kemampuan seseorang untuk mengambil ilmu, hikmah, dan kebenaran dari mana pun datangnya, selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Orang yang dewasa tidak menjadikan sentimen pribadi, fanatisme kelompok, atau kebencian kepada seseorang sebagai penghalang untuk menerima sebuah kebenaran.

Islam mengajarkan bahwa kebenaran tetaplah kebenaran, meskipun datang dari orang yang kita tidak sukai. Sebaliknya, kesalahan tetaplah kesalahan, meskipun disampaikan oleh orang yang kita cintai. Ukuran seorang mukmin bukanlah siapa yang berbicara, melainkan apakah yang disampaikan sesuai dengan dalil dan kebenaran.

Allah Ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8)

Ayat ini menunjukkan bahwa kebencian tidak boleh menghalangi seseorang untuk bersikap adil. Demikian pula dalam dunia ilmu, kebencian tidak boleh menghalangi kita menerima sebuah kebenaran.

الحكمة ضالة المؤمن، أنى وجدها فهو أحق بها

"Hikmah adalah barang yang hilang milik seorang mukmin. Di mana pun ia menemukannya, dialah yang paling berhak mengambilnya."

Seorang mukmin adalah pencari hikmah. Ia tidak sibuk mempertanyakan siapa pembawanya sebelum menimbang isi perkataannya dengan timbangan syariat.

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita sering belajar dari pengalaman anak kecil, dari orang awam, dari orang yang berbeda latar belakang, bahkan dari orang yang pernah melakukan kesalahan. Semua dapat menjadi pelajaran apabila kita memiliki hati yang terbuka.

Bahkan dari Iblis Ada Pelajaran. Tentu bukan untuk menjadikan Iblis sebagai teladan, tetapi agar manusia mengambil pelajaran.

Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari, ketika Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menjaga harta zakat Ramadhan, setan datang mencuri. Setelah beberapa kali tertangkap, setan mengajarkan agar membaca Ayat Kursi sebelum tidur sehingga Allah akan menjaganya hingga pagi. Ketika Abu Hurairah menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

"Dia telah berkata benar kepadamu, padahal dia adalah pendusta." (HR. al-Bukhari)

Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Rasulullah ﷺ tidak membenarkan kebohongan setan, tetapi beliau mengakui bahwa perkataan itu benar. Artinya, kebenaran tetap diakui sebagai kebenaran meskipun keluar dari lisan makhluk yang paling buruk.

Kedewasaan Ilmiah

Orang yang belum dewasa sering berkata:

"Siapa yang mengatakan?"

Sedangkan orang yang dewasa akan bertanya:

"Apakah yang disampaikan itu benar?"

Kita tidak mengenal kebenaran karena tokohnya, tetapi mengenal tokoh melalui kebenaran yang dibawanya. Karena itu, dalam berdiskusi, bermusyawarah, atau menerima nasihat, fokus utama kita adalah substansi, bukan sekadar personalitas.

Jangan Menolak Kebenaran karena Kebencian

Di lingkungan kerja, organisasi, maupun keluarga, terkadang nasihat datang dari orang yang pernah berbeda pendapat dengan kita. Ada kalanya masukan datang dari bawahan, murid, atau bahkan orang yang pernah menyakiti kita.

Jika nasihat tersebut benar, maka menerimanya adalah tanda kebesaran jiwa.

Sebaliknya, menolak kebenaran hanya karena tidak menyukai penyampainya merupakan bentuk ketidakdewasaan berpikir. Sikap seperti ini sering membuat seseorang kehilangan banyak peluang untuk berkembang. Tujuan diskusi bukan memenangkan ego, tetapi menemukan kebenaran.

Sikap Seorang Pencari Ilmu

Seorang pencari ilmu hendaknya memiliki beberapa karakter:

  1. Menimbang setiap perkataan dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
  2. Tidak fanatik kepada individu atau kelompok.
  3. Tidak menolak nasihat karena kebencian pribadi.
  4. Rendah hati untuk menerima koreksi dari siapa pun.
  5. Bersyukur ketika menemukan kebenaran, meskipun datang dari orang yang tidak disukai.

Kedewasaan bukan diukur dari usia atau jabatan, tetapi dari kemampuan menerima kebenaran dengan lapang dada. Selama suatu perkataan benar dan sesuai dengan syariat, maka ia layak diterima tanpa melihat siapa yang mengucapkannya.

Marilah kita membiasakan diri dengan prinsip:

انظر ما قال ولا تنظر من قال

"Lihatlah apa yang disampaikan, bukan sekadar siapa yang menyampaikan."

Sebab seorang mukmin adalah pencari kebenaran, bukan pembela ego. Ia tidak membiarkan kebencian menutup pintu hikmah, dan tidak membiarkan kecintaan membutakan mata dari kesalahan. Dengan sikap inilah ilmu akan terus bertambah, hati akan semakin bijaksana, dan persatuan akan lebih mudah terjaga di atas kebenaran.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mendengarkan setiap perkataan, kemudian mengikuti yang terbaik darinya, sebagaimana firman-Nya:

ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

 Artinya: "yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang berakal." (QS. Az-Zumar: 18)

 

Post a Comment

Previous Post Next Post