Islam
mengajarkan bahwa kebenaran tetaplah kebenaran, meskipun datang dari
orang yang kita tidak sukai. Sebaliknya, kesalahan tetaplah kesalahan,
meskipun disampaikan oleh orang yang kita cintai. Ukuran seorang mukmin
bukanlah siapa yang berbicara, melainkan apakah yang disampaikan sesuai dengan
dalil dan kebenaran.
Allah
Ta'ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟
هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena
Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum
mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih
dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8)
Ayat
ini menunjukkan bahwa kebencian tidak boleh menghalangi seseorang untuk
bersikap adil. Demikian pula dalam dunia ilmu, kebencian tidak boleh
menghalangi kita menerima sebuah kebenaran.
الحكمة
ضالة المؤمن، أنى وجدها فهو أحق بها
"Hikmah
adalah barang yang hilang milik seorang mukmin. Di mana pun ia menemukannya,
dialah yang paling berhak mengambilnya."
Seorang
mukmin adalah pencari hikmah. Ia tidak sibuk mempertanyakan siapa pembawanya
sebelum menimbang isi perkataannya dengan timbangan syariat.
Bahkan
dalam kehidupan sehari-hari, kita sering belajar dari pengalaman anak kecil,
dari orang awam, dari orang yang berbeda latar belakang, bahkan dari orang yang
pernah melakukan kesalahan. Semua dapat menjadi pelajaran apabila kita memiliki
hati yang terbuka.
Bahkan dari Iblis Ada Pelajaran. Tentu bukan untuk menjadikan Iblis sebagai teladan, tetapi
agar manusia mengambil pelajaran.
Dalam
hadis riwayat Imam al-Bukhari, ketika Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menjaga
harta zakat Ramadhan, setan datang mencuri. Setelah beberapa kali tertangkap,
setan mengajarkan agar membaca Ayat Kursi sebelum tidur sehingga Allah akan
menjaganya hingga pagi. Ketika Abu Hurairah menceritakan hal tersebut kepada
Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
"Dia
telah berkata benar kepadamu, padahal dia adalah pendusta." (HR. al-Bukhari)
Hadis
ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Rasulullah ﷺ tidak membenarkan
kebohongan setan, tetapi beliau mengakui bahwa perkataan itu benar.
Artinya, kebenaran tetap diakui sebagai kebenaran meskipun keluar dari lisan
makhluk yang paling buruk.
Kedewasaan Ilmiah
Orang
yang belum dewasa sering berkata:
"Siapa
yang mengatakan?"
Sedangkan
orang yang dewasa akan bertanya:
"Apakah
yang disampaikan itu benar?"
Kita
tidak mengenal kebenaran karena tokohnya, tetapi mengenal tokoh melalui
kebenaran yang dibawanya. Karena itu, dalam berdiskusi, bermusyawarah, atau
menerima nasihat, fokus utama kita adalah substansi, bukan sekadar personalitas.
Jangan Menolak Kebenaran karena Kebencian
Di
lingkungan kerja, organisasi, maupun keluarga, terkadang nasihat datang dari
orang yang pernah berbeda pendapat dengan kita. Ada kalanya masukan datang dari
bawahan, murid, atau bahkan orang yang pernah menyakiti kita.
Jika
nasihat tersebut benar, maka menerimanya adalah tanda kebesaran jiwa.
Sebaliknya,
menolak kebenaran hanya karena tidak menyukai penyampainya merupakan bentuk
ketidakdewasaan berpikir. Sikap seperti ini sering membuat seseorang kehilangan
banyak peluang untuk berkembang. Tujuan diskusi bukan memenangkan ego, tetapi
menemukan kebenaran.
Sikap Seorang Pencari Ilmu
Seorang
pencari ilmu hendaknya memiliki beberapa karakter:
- Menimbang setiap perkataan
dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
- Tidak fanatik kepada individu
atau kelompok.
- Tidak menolak nasihat karena
kebencian pribadi.
- Rendah hati untuk menerima
koreksi dari siapa pun.
- Bersyukur ketika menemukan
kebenaran, meskipun datang dari orang yang tidak disukai.
Kedewasaan
bukan diukur dari usia atau jabatan, tetapi dari kemampuan menerima kebenaran
dengan lapang dada. Selama suatu perkataan benar dan sesuai dengan syariat,
maka ia layak diterima tanpa melihat siapa yang mengucapkannya.
Marilah
kita membiasakan diri dengan prinsip:
انظر
ما قال ولا تنظر من قال
"Lihatlah
apa yang disampaikan, bukan sekadar siapa yang menyampaikan."
Sebab
seorang mukmin adalah pencari kebenaran, bukan pembela ego. Ia tidak
membiarkan kebencian menutup pintu hikmah, dan tidak membiarkan kecintaan
membutakan mata dari kesalahan. Dengan sikap inilah ilmu akan terus
bertambah, hati akan semakin bijaksana, dan persatuan akan lebih mudah terjaga
di atas kebenaran.
Semoga
Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mendengarkan setiap
perkataan, kemudian mengikuti yang terbaik darinya, sebagaimana firman-Nya:
ٱلَّذِينَ
يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ
هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ