Yang
lebih berat adalah ketika kita menyaksikan orang-orang yang seharusnya menjadi
teladan justru terjatuh dalam kekeliruan yang berulang. Orang yang seharusnya
menjadi sumber ketenangan terkadang justru menjadi bagian dari kegaduhan.
Keputusan yang kurang tepat, sikap yang menimbulkan kekecewaan, atau kesalahan
yang terus berulang perlahan dapat mengikis kepercayaan.
Pada
titik tertentu, kita pun mulai lelah. Bukan selalu karena membenci, tetapi
karena terlalu sering kecewa. Akhirnya muncul sikap tidak peduli. Apa yang
disampaikan tidak lagi didengar dengan antusias. Arahan tidak lagi mendapatkan
respons seperti dahulu. Sebagian memilih diam, sebagian menjaga jarak, dan
sebagian lainnya hanya menjalankan tugas sebatas kewajiban.
Inilah
salah satu kondisi paling sulit dalam sebuah lingkungan kerja: ketika
orang-orang masih berada di tempat yang sama, tetapi hati dan kepedulian mulai
menjauh. Namun dalam kondisi seperti itu, kita perlu belajar membedakan antara keadaan
lingkungan dengan tanggung jawab pribadi.
Kita
mungkin tidak mampu memperbaiki semua orang. Kita tidak bisa mengendalikan
keputusan yang ada. Kita juga tidak selalu mampu mengembalikan kepercayaan
orang lain. Tetapi kita masih bisa menentukan bagaimana kita bersikap.
Jangan
sampai kesalahan orang lain membuat kita ikut melakukan kesalahan.
Jangan
sampai kegaduhan membuat kita kehilangan ketenangan.
Jangan
sampai kekecewaan kepada seseorang membuat kita berlaku tidak adil kepada semua
orang.
Dan
jangan sampai buruknya suasana lingkungan membuat kita kehilangan nilai-nilai
yang selama ini kita pegang.
Allah
Ta’ala Berfirman:
ÙˆَÙ„َا ÙŠَجْرِÙ…َÙ†َّÙƒُÙ…ْ Ø´َÙ†َآنُ
Ù‚َÙˆْÙ…ٍ عَÙ„َÙ‰ٰ Ø£َÙ„َّا تَعْدِÙ„ُوا ۚ اعْدِÙ„ُوا Ù‡ُÙˆَ Ø£َÙ‚ْرَبُ Ù„ِلتَّÙ‚ْÙˆَÙ‰ٰ
“Janganlah
kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.
Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat
ini mengajarkan sesuatu yang sangat penting: keadaan orang lain tidak boleh
menentukan kualitas akhlak kita.
Kalau orang lain salah, kita tetap harus
berusaha benar.
Kalau orang lain tidak peduli, kita
tetap belajar peduli.
Kalau orang lain kehilangan semangat, kita
tetap menjaga amanah.
Kalau orang lain terjatuh, kita tidak
perlu ikut jatuh.
Bertahan
bukan berarti membenarkan.
Bertahan dalam sebuah lingkungan bukan berarti kita menyetujui semua yang
terjadi di dalamnya. Kita boleh tidak setuju terhadap sebuah keputusan. Kita
boleh mengkritik kebijakan yang keliru. Kita boleh merasa kecewa. Bahkan
terkadang kita perlu menyampaikan nasihat dan mengingatkan kesalahan. Namun ada
perbedaan antara menolak kesalahan dan membenci orangnya.
Kesalahan perlu diperbaiki, tetapi
manusia tetap harus dihargai.
Kritik boleh disampaikan, tetapi
kehormatan tetap dijaga.
Nasihat boleh diberikan, tetapi jangan
berubah menjadi penghinaan.
Kita
perlu memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa sesuatu itu salah, sekaligus
memiliki kedewasaan untuk tidak menjadikan kesalahan itu sebagai alasan untuk
menebar kebencian. Kedewasaan bukan berarti tidak melihat masalah. Kedewasaan
adalah mampu melihat masalah tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri.
Tetap
bekerja dengan niat yang benar. Ketika
suasana sudah tidak nyaman, jangan biarkan kualitas kerja kita bergantung
sepenuhnya pada siapa yang memimpin atau bagaimana orang lain memperlakukan
kita. Kita bekerja bukan hanya karena manusia. Kita menjalankan
amanah bukan hanya untuk mendapatkan penghargaan. Kita menjaga
integritas bukan karena ingin dipuji. Ada sesuatu yang lebih tinggi dari
penilaian manusia: Allah yang mengetahui setiap amanah yang kita jalankan.
Boleh jadi manusia tidak melihat usaha
kita.
Boleh jadi kebaikan kita tidak
diapresiasi.
Boleh jadi kontribusi kita dianggap
biasa.
Tetapi tidak ada satu pun amal yang
luput dari pengetahuan Allah.
Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ Ù„َا ÙŠُضِيعُ Ø£َجْرَ
الْÙ…ُØْسِÙ†ِينَ
“Sesungguhnya
Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS.
At-Taubah: 120)
Karena
itu, jangan berhenti berbuat baik hanya karena lingkungan tidak lagi memberikan
penghargaan. Namun bertahan juga bukan berarti membiarkan diri terus-menerus
berada dalam keadaan yang merusak. Kita perlu tetap memiliki batas. Jika ada
kesalahan, sampaikan dengan cara yang baik. Jika ada persoalan, selesaikan
melalui jalur yang tepat. Jika ada amanah yang harus dijaga, jalankan dengan
profesional.
Jangan
menjadikan “sabar” sebagai alasan untuk membiarkan keburukan tanpa usaha
perbaikan. Dan jangan menjadikan “ketegasan” sebagai alasan untuk kehilangan
adab. Kita perlu mencari jalan tengah: tegas dalam prinsip, lembut dalam cara,
jernih dalam berpikir, dan sabar dalam menjalani proses.
Mungkin
kita sedang diuji. Terkadang
kita mengira ujian hanya berupa beban pekerjaan, masalah keuangan, atau
kesulitan hidup. Padahal berada di lingkungan yang tidak nyaman juga merupakan
ujian.
Sebab
mudah untuk berbuat baik ketika semua orang memperlakukan kita dengan baik.
Tetapi mempertahankan akhlak ketika keadaan tidak menyenangkan, itulah
perjuangan yang sebenarnya. Jangan biarkan suasana yang buruk mengubah kita
menjadi pribadi yang buruk. Jika suatu hari keadaan membaik, semoga kita tetap
menjadi pribadi yang baik. Jika keadaan tidak segera membaik, semoga kita tetap
memiliki keteguhan.
Dan
jika akhirnya Allah mengarahkan kita kepada tempat atau jalan yang berbeda,
semoga kita meninggalkan tempat itu tanpa membawa dendam, tanpa menebar
keburukan, dan tanpa kehilangan kehormatan.
Karena
pada akhirnya, yang akan kita pertanggungjawabkan bukanlah bagaimana orang lain
menjalankan amanahnya. Kita akan ditanya tentang amanah kita sendiri.
Maka
bertahanlah selama masih ada kebaikan yang bisa diperjuangkan. Bersabarlah
tanpa kehilangan prinsip. Beranilah mengingatkan tanpa kehilangan adab. Tetaplah
bekerja tanpa menggantungkan keikhlasan pada penghargaan manusia.
Sebab
terkadang, Allah tidak sedang meminta kita mengubah seluruh keadaan. Allah
hanya ingin melihat bagaimana kita menjaga diri di tengah keadaan yang sulit.
_____